2

Bagaimana Media Memanipulasi Sudut Pandang Kita

Posted by mputantular on Nov 11, 2011 in life

KEMARIN, ketika iseng jalan-jalan di Google+, saya menemukan gambar menarik. Gambar yang dengan jelas memperlihatkan bagaimana media bisa memengaruhi sudut pandang kita. Bagaimana dengan sedikit ‘rekayasa’, kesan kita terhadap sesuatu bisa berubah. Ini gambarnya.

media-manipulasi
Gambar yang asli rupanya yang di tengah. Yang di sebelah kiri dan kanan merupakan hasil ‘manipulasi’. Jika disimak, kesan yang timbul setelah kita (hanya) melihat gambar pertama di sebelah kiri sangat berbeda dengan yang sebelah kanan. Kesannya sangat kontras.

Gambar ini merupakan bukti sah bahwa media bisa menggiring opini pembaca (atau pemirsa) dengan hanya menampilkan potongan foto (atau adegan) yang sesuai dan mendukung tujuannya.

Gambar yang saya temukan di Google+ ini rasa-rasanya relevan dengan isu yang sempat menguak belakangan ini, seputar bagaimana kiprah media di ranah publik. Terutama jika media berafiliasi ke partai politik tertentu.

Jika jeli, beberapa hari terakhir Anda akan sering menjumpai iklan tentang Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di televisi. Iklan ini tidak ditayangkan oleh Metro TV milik Surya Paloh, penggagas Nasdem, tapi di sejumlah televisi lain. Yakni RCTI, Global dan MNC (dulu TPI).  Iklan ‘pencitraan partai’ rutin ditayangkan ketiga stasiun TV itu tak lama setelah bosnya, Harry Tanoe menjadi Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem.

Salahkah jika ketiga stasiun TV ini menayangkan iklan tentang Nasdem? Tentu tidak. Justru itu hal yang sangat logis mengingat sang bos menempati posisi strategis di Partai itu. Penayangan seperti itu bisa dipahami dan sangat manusiawi.

Masuknya Harry Tanoe ke Nasdem membuat partai yang baru kemarin sore itu kini memiliki dua kelompok media yang sangat berpengaruh. Yakni Media Group (Metro TV dan Media Indonesia) serta MNC Group, yang tak hanya berkiprah di televisi (dan jaringan televisi berlangganan) namun juga punya koran Sindo, portal online Okezone dan radio.

Dari sisi dukungan media, Nasdem akan bersaing head to head dengan Partai Golkar yang didukung Vivagroup milik keluarga Bakrie yang punya ANTV, TV One dan portal berita Vivanews.

Group media yang sejauh ini belum jelas afiliasi politiknya adalah Para Group milik Chairul Tanjung, yang di dalamnya ada Transcorp (Trans TV dan TV 7) dan juga portal berita detikcom yang belum lama diakuisisi. Gosip menyebutkan kalau Chairul Tanjung dekat dengan SBY. Tapi apakah kemudian Transcorp akan medukung Partai Demokrat, itu masih harus disimak.

Kompas group, juga belum jelas kiblatnya. Kompas Group yang masih menjadi nomor satu untuk urusan koran harian (dan juga sejumlah koran di daerah yang berlabel ‘Tribun’) makin menancapkan kukunya di dunia maya lewat kompasdotcom dan baru-baru ini memperluas cakupan dengan mendirikan Kompas TV.

Secara pribadi saya berharap, Transcorp (atau setidaknya Kompas group) akan memilih berada pada posisi netral. Sebagai penyeimbang. Posisi media yang netral sangat perlu untuk memberi alternatif bagi masyarakat yang mendapat asupan berita yang ‘terkontaminasi’ kepentingan. Ketika tayangan media yang pemiliknya berafiliasi ke parpol berpotensi ‘dimanipulasi’ dengan alasan pertimbangan politik praktis, diperlukan media lain yang berdiri di tengah, dengan perspektif yang lebih luas dan netral.
Tentu, dalam praktek, netralitas media sangat sukar terutama jika dikaitkan dengan bisnis. Dengan iklan. Tapi saya yakin, pengelola media yang netral ini bisa memisahkan kepentingan bisnis (dalam hal ini iklan) dengan kepentingan masyarakat yang berhak mendapatkan informasi yang jernih dan tidak memihak.
Manipulasi blogger?

Manipulasi, tak hanya bisa dilakukan media mainstream terkemuka. Hal yang sama bisa dilakukan oleh blogger. Hadirnya internet dan platform blog serta situs jejaring sosial memberi peluang bagi siapa saja untuk menyuarakan aspirasi dan selera politiknya ke ranah publik. Aspirasi bisa disuarakan dengan jernih, dan bisa juga berdasarkan ‘pesanan’.

Di blogdetik, saya pernah membaca tulisan yang sangat memuji-muji tokoh politik tertentu. Ada juga yang sangat menyanjung figur tertentu. Salahkah jika ada Bloggerdetik yang menyanjung seorang tokoh politik? Tentu tidak. Dunia maya adalah media yang terbuka untuk aspirasi. Dunia maya menjunjung tinggi asas demokrasi. Jika seseorang kagum pada figur tertentu (atau parpol tertentu) itu adalah hak asasinya. Apalagi jika sanjungan ditulis di blognya sendiri.

Namun, tentu saja, tulisan yang sangat pro pada figur atau parpol tertentu, berpeluang besar untuk dimanipulasi. Baik disengaja atau tidak. Baik itu bertujuan semata untuk penulisan maupun karena ada ‘pamrih’ lain. Dan untuk itulah, dibutuhkan tulisan dari pihak lain yang netral. Yang bisa memberi alternatif sudut pandang yang lebih komprehensif. Supaya pembaca bisa mendapatkan informasi yang utuh dan tidak sepenggal-sepenggal.

Pada akhirnya memang, konten yang tersaji akan kembali ke selera dan tingkat pemahaman pembaca. Ada tulisan yang menyanjung figur politik tertentu yang oleh si A dinilai ‘wow keren’, namun oleh si X akan dinilai sebagi ‘ah dasar penjilat’. Tulisan yang lain akan dinilai sebagai ‘sangat inspiratif’ oleh si B namun dianggap ‘ihh bikin eneg’ oleh Y.

Tinggal bagaimana pembaca menyikapi. Apakah bersedia dimanipulasi atau tidak.

Bagaimana pendapat Anda?

Tags: , ,

Copyright © 2008-2012 just another story... All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.